Seorang perempuan Swedia mengaku punya hubungan khusus dengan bangunan. Hubungan khusus yang dimaksud tak berbeda dengan hubungan cinta dengan seorang pria.
Perempuan itu bernama Eija-Rita Berliner-Mauer. Nama belakangnya, Berliner-Mauer, berarti Tembok Berlin. Nama itu menandakan dia sudah menikah dengan tembok bersejarah yang membelah Jerman menjadi dua negara, Jerman Timur dan Jerman Barat.
Berliner-Mauer mengaku dia resmi menikahi Tembok Berlin 29 tahun silam. “Perasaan saya pada Tembok Berlin jauh lebih dalam dari yang dibayangkan orang,” jelasnya, Kamis (29/5).
Tak jelas motivasi Berliner-Mauer memilih bangunan itu sebagai suaminya. Namun yang pasti, dia didiagnosa mengalami kondisi yang biasa disebut fetish building atau objectum sexuality, yaitu perasaan cinta, ketertarikan seksual, keinginan untuk menjalin keluarga dengan suatu obyek.
Mereka biasanya menganggap hubungan antarmanusia sebagai sesuatu yang menggelikan.
“Ketertarikan saya pada Tembok Berlin dan konstruksi bangunan lain adalah ketertarikan emosi dan seksual. Saya mencintai mereka seperti manusia mencintai manusia,” katanya.
Berliner-Mauer.
Dia mengaku jatuh cinta dengan tembok tersebut ketika pertama kali melihatnya di televisi. Saat itu dia berusia tujuh tahun. Sejak itu, dia mulai mengoleksi gambar Tembok Berlin dan menabung supaya bisa mengunjungi tempat itu.
Pada kunjungan keenamnya tahun 1979 silam, Berliner-Mauer ‘mengikat janji’ menjadi istri tembok yang dibangun Uni Soviet tahun 1961 untuk mencegah eksodus warga Jerman Timur ke Jerman Barat itu.
Usianya kini 54 tahun. Dia belum pernah berpacaran dengan pria. Bahkan keperawanannya terjaga hingga kini. Dia menegaskan sangat mencintai dan bangga atas hubungannya dengan tembok itu.
Cintanya pada Tembok Berlin sangat besar. BerlinerTembok Besar Tiongkok, yang punya struktur serupa pun tak menarik perempuan yang tinggal di Liden, wilayah utara Swedia itu.
“Menurut saya sesuatu yang panjang dan ramping dengan garis horisontal seperti ini terlihat sangat seksi,” kata Berliner-Mauer tentang ’suaminya’. “Tembok Besar Tiongkok memang menarik, tapi dia terlalu tipis, suami saya lebih seksi,” tegasnya.
Saat sebagian besar warga dunia bersorak gembira ketika Tembok Berlin runtuh tahun1989 lalu, ‘istrinya’ sangat ketakutan. Sejak itu dia tak pernah kembali ke Berlin. “Yang mereka lakukan benar-benar mengerikan. Mereka memutilasi suami saya,” beber Berliner-Mauer. Kini cintanya telah berpindah ke sebuah pagar taman di dekat rumah.
sumber: www.surya.co.id


