Yuk! Kita Ciptakan Global Community Sejak Dini
Studi di Belanda? Wow! Pasti kesempatan yang takkan tergantikan dengan apapun. Saat saya kecil, sekitar kelas 6 SD saya main ke rumah teman saya. Seperti biasa saya suka sekali bermain di rumah teman saya ini karena di rumahnya segala bentuk permainan tersedia. Saat itu saya melihat ada sebuah majalah yang ada di atas meja. Mata saya dan tangan saya sudah gatal melihat sesuatu yang menarik, saya mengambilnya dan membacanya. Tidak sesuai dengan harapan saya, ternyata majalah ini adalah majalah remaja yang berisi gosip selebritis dan mode anak-anak gaul. “Ah! Kirain majalah apaan?” pikir saya. Karena saya sudah tertarik dengan sampulnya, saya tetap saja membuka-buka tipa halaman untuk melihat gambar-gambar yang ada tanpa membaca isinya. Malas sekali membaca rubrik yang bukan untuk anak kecil seperti saya. Tapi sampai di tengah-tengah halaman, saya tertegun dan pasti akan menghabiskan sisa waktu untuk membaca isi dari rubrik itu.
Ternyata isi yang saya cari ketemu juga. Saya akan membaca tiap kata dari isi rubrik ini. Rubrik tentang kisah seorang yang mendapatkan beasiswa ke Belanda untuk melanjurkan gelar Master. Kisah ini adalah kisah seorang mahasiswi UI jurusan filsafat. Saya lupa jurusan apa yang dia ambil di universitas di Belanda. Yang pasti bahwa kisah ini adalah kisah inspiratif tentang perjuangannya mendapatkan beasiswa Master di Belanda dengan full scholarship. Kisah ini mengubah maindset saya untuk belajar lebih giat agar saya bisa mengikuti jejak seorang mahasisiwi ini. Setelah saya membaca kisah ini, saya selalu mencari informaso-informasi tentang beasiswa ke luar negeri terutama negeri Belanda. Saat ini saya sedang dalam menyelesaikan skripsi saya. Saya bermimpi mengunjungi Belanda untuk bisa belajar di sana. Banyak sekali informasi saya cari agar saya bisa mengikuti jejak sang inspiratif di majalah remaja dulu.
Tahun 2007 kemarin, saya mendapatkan kesempatan menjadi finalis Bayer Young Environmental Envoy (BYEE), yaitu semacam lomba yang diperuntukkan bagi generasi muda yang peduli lingkungan. Saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti workshop selama seminggu di Bogor dan Jakarta. Saya banyak mengenal teman-teman finalis lain dari Universitas terbaik di Indonesia seperti UI, ITB, IPB, Undip, ITS dan Universitas Tanjungpura. Sedangkan saya sendiri dari Universitas Brawijaya. Pada saat acara saya juga berkenalan dengan teman-teman alumni BYEE Indonesia angkatan dulu. Saya berkenalan dengan Bang Amar Ma’ruf, di lihat secara sekilas dia biasa-biasa saja tetapi ternyata dia kandidat mendapatkan beasiswa di jurusan Environmental di Belanda. Saya bisa bertanya-tanya tentang studi di Belanda. Kemudian saat akhir dari workshop ada sebuah awarding night di Intercontinental Hotel. Saat itu bang Amar mengundang perwakilan dari Nuffic Neso Indonesia. Saya di perkenalkan dengan Mr. Marrick Bellen, saya di berikan kartu namanya. Ah! Sungguh bahagia saya meskipun saya tidak banyak bicara dengan beliau karena acara yang akan di mulai. Tetapi saya berharap saya bisa berkomunikasi lewat kesempatan lain.
Pengalaman ini saya harap akan berlanjut dengan bisa studi di Belanda dan menjadi sebuah tiket menuju Global Community. Karena global community bukanlah komunitas di luar negeri saja tetapi bagaimana sebuah proses menuju komunitas yang terbuka dan informatif. Jika saat ini komunitas menuju proses belajar di Belanda sudah di bangun, maka akan mudah juga kita menciptakan komunitas global yang lebih besar lagi.

Loading...